“Goldkey!?” herannya.
“Sendok?!” petugas laundry itupun terlonjak melihat kawan lamanya duduk di hadapannya. Perlahan ia melangkah mundur, selangkah dua langkah lalu ia berbalik dan berniat kabur dari situ. Tapi tak disangka pangeran sendok lebih gesit, ia pun menangkap lengannya dan menariknya untuk tetap tinggal di ruangan itu.
“Hahahaha……. Banyak yang membutuhkanmu ya disini.” Olok Pangeran sambil menahan pundak kunci itu.
“Emmmm…..” kepalanya semkain kaku, kalimatnya menggantung, matanya melebar kemudian melayu, ia pasrah sekarang.
“Tertawakan saja aku Sen, tertawalah lagi….” Ia meringis. Pangeran Sendok terdiam sesaat. Dan benar saja, ia benar-benar tertawa terbahak-bahak setelah memeluk batang kunci tak berdaya itu.
“Kau ini, sudah kuliah tinggi-tinggi masih saja bodoh ya.”
“Aku juga menyesal kuliah, kalau akhirnya hanya menjadi kulir laundry disini.”
“Bukan itu maksudku bodoh!...”
“Bodoh! Apapun keadaanmu aku tetap temanmu yang dulu.” Lanjutnya, di lepaskan pelukannya sekarang dan menatap wajahnya yang benar-benar membuat Pangeran geli dibuatnya. Wajah super polos dan tak berdaya padahal sebenarnya binal.
“Hahahaha……” seonggok kunci itupun kini ikut tertawa juga. Dan merangkul Pangeran dengan eratnya sehingga membuat napas Pangeran terengah sesak dibuatnya.
“OK OK. Lepaskan aku.” Ia melepaskan pelukannya. Mengamati keadaan pangeran dari atas sampai bawah.
“Kenapa kau?”
“Aku hanya mengamatimu dari ujung rambut sampai ujung kaki, kau telah banyak berubah ya.” Dengan jari mengelus dagu.
“Hey! Kau lupa ya? Aku kan tidak punya rambut. Hahaha….”
“Hahahaha…. Benar juga…..”
“Ok, mari bung kita ngopi sebentar.”
“Baiklah, aku rasa bosku tidak akan masalah kalau aku bolos kerja untuk seorang Pangeran.” Godanya, Pangeran Sendok paling geli bila kawannya ini menyebut namanya dengan title “Pangeran”, aneh di telinganya.
--
“OOOOOOWAAAA….” Wajahnya meringis.
“Bagaimana ini nona, sepertinya anda harus berdiet.” Kata wanita tua itu sembari
menyeleretingkan baju pengantin.
“Ah, iya. Aku sudah terlalu gendut ya?”
“Iya nona.” Kata wanita tua itu polos. Putri Mangkuk sedang mencoba gaun pengantinnya, baru satu bulan di buat tapi saat fitting lagi gaunnya sudah tidak muat. Ah, pasti ini gara-gara menyemil makanan tinggi gula. Harusnya aku makan “soyjoy” saja, pikirnya.
Ia melepas kembali gaun itu dan meletakkannya pada lemari di ujung kamar seluas 10x10 meter itu. Kini ia terduduk di pinggir ranjangnya, tertegun lesu. Asistennya itupun langsung menghampiri majikannya itu.
“Putri,,, kau kenapa?” tanyanya khawatir.
“Tidak apa-apa bibi, aku hanya ingin jalan-jalan. Boleh?” wajahnya memelas berharap Ia diperbolehkan keluar hanya untuk sekedar menikmati udara bebas yang sudah lama tak Ia nikmati setelah menjalin hubungan dengan Pangeran Bakul.
“Tapi putri,”
“Aku akan baik-baik saja.” Potongnya sembari nyengir lebar ala mangkuk, dengan riang Ia pergi dari kamar itu meninggalkan Bibi Telur yang sudah retak itu.
Ia berlari secara diam-diam melalui pintu belakang. Untuk mengelabui penjaga, ia melilitkan sorban ke seluruh muka dan ukiran batik di tubuhnya yang khas. Maka dengan rela si penjaga akan melepaskannya dari istana.
Keramaian membuat aliran darahnya lebih lancar, otaknya juga lebih segar karena banyak oksigen yang masuk. Ya disinilah pasar tradisionalnya. Banyak kios yang menyediakan jasa body painting untuk para gadis mangkuk dan kios yang menjual pearsing untuk pelengkap kecantikannya. Tapi, Putri Mangkuk tak mau mampir ke kios seperti itu, selain karena sudah tak ada tempat kosong untuk di painting, Ia bisa kena bakar oleh Ayahnya bila tahu anaknya mampir ke kios di pinggir jalan yang tidak hygienis itu. Lagipula Ia hanya tertarik untuk mampir ke kios topi di sebelah kanannya.
Masuklah Ia ke dalam kios, pedagangnya ramah, dan murah senyum. Ialah Abang Payung, sudah lama ia mengenal pria ini. Dulu saat kecil ia sering ikut ke istana dengan Bibi Telur. Ya, Ia adalah San, anak bungsu Bibi yang seumuran dengan Mangkuk.
Masih mengenakan sorban ia berkeliling ke etalase toko melihat-lihat berbagai macam topi yang menarik hati.
“Mau yang mana putri?” tanyanya tiba-tiba. Mangkuk terkaget mendengar kata Putri. Ia menoleh kearah suara tersebut. San rupanya.
“HEM, kau tau aku?”
“Hahaha, tentu. Kau tak asing bagiku putri.”
“Aku yakin kau pintar menjaga rahasia.” Tukasnya pada seikat paying di sebelahnya.
“Bisa dipercaya.” San mengerti perintah itu, yang artinya Ia harus diam.
“Hem, nona…. Ada yang bisa saya bantu.?” Tawarnya seolah ia baru mengenal Mangkuk.
“Bagus. Kau tipeku kawan.” Canda putri pada si paying.
“Em, Bang, tolong lihat yang coklat itu.” Putri menunjuk topi berukuran besar berwarna coklat yang tergantung di rak paling atas. Dengan sigap San menggaitnya dengan tangannya yang panjang dan segera menyerahkannya pada putri. Ia memutar topi itu, halus dan lembut, berbahan dasar katun, romantic dan elegan.
“Baik aku mau yang ini.” Ia menyodorkan kantung merah pada San.
“Untukmu saja nona.”
“Tidak bisa, kau harus terima ini.” Disodorkannya lagi kantung merah itu, tapi San tetap saja tak mau sedikitpun menyentuh kantung itu. Tak mau repot putri pun meninggalkan kantung itu di rak yang paling dekat dengan tangannya. Lalu berlenggang pergi sembari melepas sorban dan mengenakan topi barunya. Topi itu sangat cocok di wajahnya, diameternya sangat pas dengan lingkar kepalanya dan sedikit menutupi bagian wajahnya, dan itu yang Ia mau, wajahnya tertutup sehingga Ia tak dikenali oleh khalayak umum.
Dengan semangat Ia menyusuri jalanan yang ramai begini sendirian, melewati satu per satu rakyatnya santai. Sampai Ia terhenti tiba-tiba karena melihat tanda itu,, tanda yang sering dibuat teman lamanya. Melobangi bendera yang terpasang di pinggir jalan dengan bentuk segitiga. Ia mendekati bendera itu, bendera kebangsaan negeri mangkuk berwarna biru dengan lambang oval besar dan oval kecil di bawahnya, ya benar. Ini benar-benar mirip dengan tanda yang suka Ia buat dimanapun Ia berada. Stainly.
to be continued >>>>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar