Tapi, ah. Mungkin aku terlalu lama tak melihatnya, makanya aku selalu ingat padanya, guntingan seperti ini semua orang juga bisa buat kan? Bahkan anak kecil juga bisa. Lalu ia menoleh pada segerombolan anak kecil yang berlalau lalang di sekelilingnya dan berlenggang pergi tanpa memikirkan terlalu berat hal tadi.
--
Tok tok tok.
Di ketuknya pintu berbahan kayu ukir tersebut, ukirannya unik dan cantik, mirip di negeri dongeng. Di ketuknya sekali lagi, tapi tak ada jawaban dari dalam rumah.
Kali ini ia mengetuk lebih keras lagi sambil memanggil-manggil istrinya.
“Iya, ayah. Maaf aku sedang di dapur tadi.” Dibukanya pintu itu lebar-lebar.
“Oh, kau bawa tamu rupanya, mari masuk.” Suruhnya sopan dan ramah sembari tersenyum.
“Iya.” Mereka berdua masuk kedalam rumah yang tak terlalu besar itu, sederhana tapi nyaman, sangat pas untuk membina sebuah keluarga kecil yang harmonis.
“Hai.” Sapa pangeran mangkuk pada istri goldkey. Ia masih lengkap dengan celemek dan sarung tangan masak. Ia cantik untuk ukuran sebuah kunci. Stainly duduk di sofa ruang tamu goldkey, terdapat anak goldkey disana sambil menonton tivi. Kini mereka hanya berdua saja, si pasangan kunci itu sedang berada di dapur.
“Hei nak, siapa namamu?” Tanya stainly pada anak kunci berwarna biru itu, ia berumur sekitar 4-5 tahunan sedang menonton spongesbob dengan khusyuk.
“Rubi.” Jawabnya datar dan singkat.
“Hahaha….. lucu sekali melihat spons bisa bicara.” Candanya konyol.
“Spons juga akan tertawa kalau tau sendok bisa bicara.” Celetuknya datar. Stainly terdiam di atas sofa, sedang pasangan kunci yang tak sengaja mendengar perbincangan mereka dari dapur tertawa geli mendengar ocehan anaknya itu. Si kunci emas datang membawa nampan sambil masih terkekeh geli.
“Sekarang kau tau kan? Rubi pintar bicara dari siapa?” goda goldkey. Muka stainly berasa tertangkap basah maling di supermarket, kaku.
“Ok, kau menang, aku minum ya.” Mengalihkan pembicaraan dan mengambil segelas anggur dingin di atas meja. Cukup beberapa tegukan sebelum gelas itu diletakkannya kembali di atas meja, kini matanya berkeliling menyusuri tembok ruang tamu ini. Simple dan tersusun indah. Hanya terdapat barisan poto dan jam dinding disana. Rupanya si bodoh ini cukup pintar mengurusi keluarganya ya, benak stainly.
“Hey Rub,,, kapan-kapan main ke tempatku ya.”
“Ada apa disana?” tantang si biru.
“Apa yang kau mau, aku bisa belikan.” Bangganya.
“Benarkah?” kini ia benar-benar tertarik pada stainly, padahal sebelumnya ia hanya menganggapnya seperti angin lalu. Kemudian si birupun ikut duduk di sofa dekat dengan stainly dan meningglkan scene spongesbob favoritenya.
“Memang rumah om dimana?” Tanya Rubi polos.
“Om? Hey! Aku kan belum menikah.”
“Tapi kan kau sudah tua, dan lihat saja, hampir ada sepuluh kerutan mengitari matamu.”
“Hahahaha…… kau ini benar-benar pintar menghina orang ya.” Lalu ia mengacak kepala Rubi.
“……”
“Ehmm, rumah om ada di seberang jembatan sana.” Ia menunjuk arah dimana jembatan bertengger lalu merangkul pundak Rubi.
“Terdiri dari sepuluh lantai dan terdapat sekitar 157 kamar di dalamnya, 4 taman dan 3 kolam renang.”
“Waw. Kau orang kaya ya?” kagumnya.
“Bukan, aku cleaning service disana.” Akunya tak jujur. Seketika raut wajah Rubi yang kagum berubah menjadi malas.
“Lalu, jika aku mengaku sebagai keluargamu disana, apa mereka mau meminjamiku sepeda tenaga surya?”
“Owh, jangan khawatir kau tak perlu meminjam Rubi, aku bisa membelikanmu. Gajiku sangat cukup untuk itu.”
“Gajimu sangat besar, boleh aku bekerja disana juga?” tanyanya polos.
“Hahahha…… jangan bercanda.” Lalu ia mengacak kepala Rubi lagi, si emas dan istrinya yang baru keluar juga tertawa geli, kini mereka berdua ikut duduk di sofa yang sama, mengobrol santai dan sekedar bercanda riang. Menyenangkan. Tak pernah ada situasi seperti ini di kerajaan. Stainly baru merasakn enaknya memiliki keluarga. Bahkan dengan anak dan istri goldkey yang baru di kenal saja, ia sudah merasa sangat dekat dan menganggapnya keluarga. Intinya. Semua ini menyenangkan!
--
Mobil sport terbaru berwarna putih berhenti di depan gerbang istana mangkuk, dibukannya pintu belakang mobil itu oleh sopir, dan dengan angkuh seorang laki-laki keluar dari dalamnya, badannya lebar dan tipis, berjaring-jaring dan berwarna merah jambu. Dengan angkuh pula memandang sekitar istana, memamerkan tubuhnya yang baru ia semir.
To be continued…….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar