Untuk apa ia menjadi pangeran, apa dan siapa yang harus ia pimpin? Apakah sanggup tubuhnya yang kurus ini memimpin suatu kerajaan. Ah, rasanya tidak mungkin, jika ia harus berkelahi dengan sekelompok monster yang ingin mmerusak kerajaannya, mungkin ia bahkan tak kuat mengangkat pedangnya sendiri, menurutnya.
“Tuan,…” kata penasehat pada pangeran sendok yang sedari tadi berdiri dibelakang jendela, memandang kosong kearah biru langit.
“Ya?” kata pangeran berserak lembut.
“emmm….” Ia ragu untuk mengucapkan kalimatnya.
“Ada apa penasehat?” tanyanya penasaran.
“Ini.” Ia menyerahkan sebuah amplop berisikan surat. Perlahan ia membuka surat itu. Meski sempat ragu untuk membacanya, tapi setelah pangeran melihat wajah penasehat tempat tusuk gigi yang tulus ia yakin bahwa isi surat ini ……… ia tidak tahu apa…..
“kepada pangeran sendok steelspoon, kami mengharapkan kedatangan anda di acara pernikahan anak kami yang bernama putri mangkuk batik made in solo dengan pangeran bakul nasi plastik,” ia melirik penasehat lagi.
“…dengan segenap rasa terima kasih kami haturkan bila Pengeran bersedia menghadiri acara ini. Wassalamu’alaikum.” Lanjutnya.
Wajahnya berubah setelah membaca surat undangan tadi, kini raut mukanya suram dan tidak mengkilat lagi. Matanya sendu dan jemarinya lemas sehingga mengayunkan surat dan amplopnya ke atas lantai. Ia terduduk di kursi tahtanya sekarang. Kursi berspon merah dengan bingkai keemasan layaknya kursi raja pada umumnya.
“Pangeran, kau tak apa?” Tanya penasehat khawatir.
“Tenang saja penasehat, kau tau aku lebih kuat dari badanku kan?” hiburnya tegar dan masih tertunduk.
“Iya, pangeran. Kau mau aku bawakan sesuatu?”
“Emmm…..”
“Aku mau kita berkunjung ke kerajaan Putri Mangkuk sebelum acaranya tiba.” Lanjutnya.
“Ba-baiklah pangeran.” Agak bingung tapi ia tak bisa menolak perintah pangeran.
“HEYY!!!!!! CEPAT SIAPKAN PERBEKALAN DAN KENDARAAN UNTUK PANGERAN PERGI KE KERAJAAN MANGKUK!! CEPAT!” perintahnya pada ajudan kerajaan menggema di balik mikropon. Dengan sigap mereka melaksanakan perintah penasehat.
“Ini mantel dan I-pod anda pangeran.” Sodor penasehat di dalam kereta asbak.
“Terima kasih penasehat.”
“HIIAAKKK!!!!!!!” kusir memberi aba-aba dan keretapun melaju dengan cepat ke kerajaan mangkuk.
“I hope you know, I’ll always try to be good man until my last breath,,,, I can’t pretend the feeling for you, you make me feel like I’m free again…” selagi kereta melaju, pangeran mendendangkan lagu mengikuti irama dari dalam I-pod. Sedangkan penasehat sedang memeriksa jadwal pangeran seminggu ke depan dengan “Tablet”-nya.
“Maaf pangeran, hamba tidak ingin lancang tapi mungkin kita hanya bisa berkunjung ke kerajaan mangkuk beberapa hari saja. Karena selasa depan kita ada perjamuan makan dengan keluarga dari ibu anda.”
“Tidak masalah bung, atur semuanya, I belong with you. Ck” pangeran memainkan jemarinya menyerupai tembak dan menunjuk penasehat yang duduk di sampingnya. Ia masih tak melepas I-podnya. Kali ini dengan lagu dari taylor swift-our song.
Kereta berhenti bersamaan dengan dengan I-pod pangeran dimatikan. Dibukanya pintu kereta mewah itu, diikuti penasehat dari belakang. Kerajaan ini sangat ramai. Berbagai macam rupa dan bentuk mangkuk semua ada disini, mangkuk kayu, mangkuk keramik, mangkuk ukir, mangkuk cinapun ada disini. Mata pangeran berpencar mencari sosok itu, menyapu rupa dari ujung ke ujung, tetap ia tak menemukan mangkuk motif batik favoritnya, Putri mangkuk. Ah, mungkin ia sedang dipingit, pikirnya. Jadi ia melanjutkan perjalanan mencari hotel yang paling dekat dengan kerajaan dan memilih kamar yang paling tinggi agar bisa mengamati suasana di bawah sana juga mengamati putri mangkuk tentunya.
Kini ia duduk di sofa empuk yang menghadap jendela. Menikmati merah senja dengan secangkir moccacino dan ber-chatting dengan teman kuliahnya dulu yang sekarang keberadaannya tak di ketahui.
Steelspoon : tidak bung, aku tidak seperti dulu dengannya.
Goldkey : jangan bohong.
Steelspoon : tidak bohong, aku akan menghadiri pernikahannya besok lusa.
Goldkey : baiklah. Aku senang kau tegar.
Steelspoon : tentu, dimana kau?
Goldkey : disini, bersama orang yang membutuhkanku.
Goldkey keluar dari percakapan-
Tuk tuk tuk.
“Siapa?”
“Laundry tuan!.”
“Masuk!”
Pelayan berseragam merah dengan topi khas hotel masuk ke kamar pangeran dengan sopan dan menundukkan kepala mendatangi pangeran.
“Permisi tuan, apakah ada baju yang ingin kau cuci?” tanyanya di balik punggung pangeran.
“Emmm,,,, rasanya tidak ada. Kata pangeran tanpa menoleh kearah pelayan Laundry.
“Lalu tuan, ada yang bisa saya bantu lagi disini?” tanyanya ramah meski terdapat nada kecewa karena tak mendapatkan laundry.
“Aku hanya ingin kau memijiti punggungku.” Sambil menepuk punggungnya.
“Maaf pangeran, saya tidak ahli dalam memijit, jadi…” ia ragu.
“Jadi?” ia membalikkan badannya, menatap wajah petugas laundry. Matanya tercengang. Ia sama sekali tak menyangka menemukan makhluk ini dikamarnya sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar