Aku berlari dalam malam.
Tanpa alas kaki, tanpa tau apa yang ada di depanku.
Gelap. Bahkan bulan dimakan nama malam sendiri
Tanpa sisa. Detak jantung menjadi irama setiap langkahku
Menjalar dengan darah menuju otak lalu ke mata.
Ya, detak itu kini ada di mataku.
Menjadi dosa dalam dirinya sendiri.
Aku terus berlari. Tak berasa rumput pada kaki ini
Bukan tanah, beton, aspal aatau keramik.
Sesuatu yang halus dan kuat.
Tidak. Bukan kayu.
Entahlah. Kadang sesuatu yang tajam dan berduri.
Kadang bara yang terlarut panas tapi tak membuat terbakar.
Kadang air yang bahkan aku sendiri tak tau apa rasanya.
Semua hal itu membuatku lelah.
Berlari di tengah malam dan tak tak tau dimana ujungnya.
Aku lelah. Terlalu lelah. Bahkan untuk bernafas sekalipun.
***
Terdengar satu ketukan ringan dan memanggil. Satu ketukan lagi.
Lagi. Lagi. Dan banyak lagi.
Bergandengan menyusun lagu lirih tak berlirik dan tak berlarik.
Saling menarik mencubit menarik.
Kini aku berputar. Berputar. Berputar.
Lalu berputar dan berputar lagi.
Meninggalkan aroma kekalahan dan kelelahan yang perlahan menjadi kepakan kasar dan
kaok-an parau hitam gagak yang telah lama bersemayam di jiwa.
Menggerogoti setiap rusuk. Lama. Hingga busuk.
Aku terus berputar. Sampai pada sungai yang akan menghanyutkanku pada sebuah ujung.
Mengalirkan dongeng yang membuat nyaman dan damai.
***
Dimana kakiku?
Dimana tanganku?
Dimana mataku?
Dimana?!
Kini aku seonggok asa dengan jantung menggantung dan berlambai-lambai diterpa angin.
Masuk ke bagian paling dalam dan intim di dasar relung hati.
Oh. Ini bukan aliran sungai. Tapi aliran air mata.
Dan bagus saja. Aku tidak bisa berlari lagi.
***
Aku mencium bau pantai. Tapi hidungku tak disini.
Aku merasakan ada yang menggigiti bokongku. Sakit sekali.
Aku mendengar suara memanggilku. Tapi telingaku tak disini.
Ada lagi. Semakin dekat. Hampir dekat. Dekat. Sangat dekat.
Hingga menabrakku dan menjatuhkanku ke dasar sungai.
Dan jatuh lebih dalam lagi.
Menuju ruang kosong yang menyilaukan.
Mempertemukan aku dengan Tuhan.
Apakah ini ujung?
Suara itu ada lagi. hampa dan tak bernyawa
Aku lelah. Lelah yang sangat panjang melebihi untaian dongeng telur dan ayam yang saling mengaku menjadi makhluk pertama.
Kalau ini memang ujung.
Tuhan aku datang membawa doa, memohon kematianku.
***
Putih tak jadi putih.
Malam tak jadi malam.
Angin menghempas jantung mengikis asa.
Tinggallah aku yang jadi abu. Benar.
***
..... ......
BalasHapus