Sabtu, 05 Juni 2010

Si Pohon Tua by: Dee

Seperti siang-siang sebelumnya, siang inipun matahari begitu terik membakar kulit Si Pohon Tua di pekarangan rumah Endy.

“Tak bisakah Ibu membiarkan kami jatuh?” kata Emil si daun yang bertengger pada batang Si Pohon Tua.

“Tidak.” kata Si Pohon Tua serak karena kehausan.

“Demi kebaikan Ibu.” kata Tedy si daun lainnya.

“Kalau tidak Ibu akan mati.” lalu berpuluh-puluh daun itu menjatuhkan dirinya ke tanah.

“Tidaak.”Si Pohon Tua menangis meronta sementara tenggorokannya semakin kering. Satu per satu daunnya gugur ke tanah. Kini ia semakin gundul.

“Lalu apa kalian tega membiarkan ibu kedinginan setiap malam menunggu daun-daun ibu tumbuh setengah musim hujan nanti?” Si Pohon Tua terus menangis sementara kulitnya semakin mengering dan mengelupas. Akhirnya Emil dan lainnya tidak sanggup meninggalkan Si Pohon Tua. Mereka pun mengering bersamaan seiring berjalannya waktu.

**

“Ibu, pohon ek kita mati.” kata Endy di bawah Si Pohon Tua.

Ende

Tidak ada komentar:

Posting Komentar