Jumat, 25 November 2011

Pangeran Sendok dan Putri Mangkuk (part 2)


     “Goldkey!?” herannya.

     “Sendok?!” petugas laundry itupun terlonjak melihat kawan lamanya duduk di hadapannya. Perlahan ia melangkah mundur, selangkah dua langkah lalu ia berbalik dan berniat kabur dari situ. Tapi tak disangka pangeran sendok lebih gesit, ia pun menangkap lengannya dan menariknya untuk tetap tinggal di ruangan itu.

     “Hahahaha……. Banyak yang membutuhkanmu ya disini.” Olok Pangeran sambil menahan pundak kunci itu.

     “Emmmm…..” kepalanya semkain kaku, kalimatnya menggantung, matanya melebar kemudian melayu, ia pasrah sekarang.

     “Tertawakan saja aku Sen, tertawalah lagi….” Ia meringis. Pangeran Sendok terdiam sesaat. Dan benar saja, ia benar-benar tertawa terbahak-bahak setelah memeluk batang kunci tak berdaya itu.

     “Kau ini, sudah kuliah tinggi-tinggi masih saja bodoh ya.”

     “Aku juga menyesal kuliah, kalau akhirnya hanya menjadi kulir laundry disini.”

     “Bukan itu maksudku bodoh!...”

     “Bodoh! Apapun keadaanmu aku tetap temanmu yang dulu.” Lanjutnya, di lepaskan pelukannya sekarang dan menatap wajahnya yang benar-benar membuat Pangeran geli dibuatnya. Wajah super polos dan tak berdaya padahal sebenarnya binal.

     “Hahahaha……” seonggok kunci itupun kini ikut tertawa juga. Dan merangkul Pangeran dengan eratnya sehingga membuat napas Pangeran terengah sesak dibuatnya.

     “OK OK. Lepaskan aku.” Ia melepaskan pelukannya. Mengamati keadaan pangeran dari atas sampai bawah.

     “Kenapa kau?” “Aku hanya mengamatimu dari ujung rambut sampai ujung kaki, kau telah banyak berubah ya.” Dengan jari mengelus dagu.

     “Hey! Kau lupa ya? Aku kan tidak punya rambut. Hahaha….”

     “Hahahaha…. Benar juga…..”

     “Ok, mari bung kita ngopi sebentar.”

     “Baiklah, aku rasa bosku tidak akan masalah kalau aku bolos kerja untuk seorang Pangeran.” Godanya, Pangeran Sendok paling geli bila kawannya ini menyebut namanya dengan title “Pangeran”, aneh di telinganya.

     --      

     “OOOOOOWAAAA….” Wajahnya meringis.

     “Bagaimana ini nona, sepertinya anda harus berdiet.” Kata wanita tua itu sembari menyeleretingkan baju pengantin.

     “Ah, iya. Aku sudah terlalu gendut ya?”

     “Iya nona.” Kata wanita tua itu polos. Putri Mangkuk sedang mencoba gaun pengantinnya, baru satu bulan di buat tapi saat fitting lagi gaunnya sudah tidak muat. Ah, pasti ini gara-gara menyemil makanan tinggi gula. Harusnya aku makan “soyjoy” saja, pikirnya.

     Ia melepas kembali gaun itu dan meletakkannya pada lemari di ujung kamar seluas 10x10 meter itu. Kini ia terduduk di pinggir ranjangnya, tertegun lesu. Asistennya itupun langsung menghampiri majikannya itu.

     “Putri,,, kau kenapa?” tanyanya khawatir.

     “Tidak apa-apa bibi, aku hanya ingin jalan-jalan. Boleh?” wajahnya memelas berharap Ia diperbolehkan keluar hanya untuk sekedar menikmati udara bebas yang sudah lama tak Ia nikmati setelah menjalin hubungan dengan Pangeran Bakul.

     “Tapi putri,”

     “Aku akan baik-baik saja.” Potongnya sembari nyengir lebar ala mangkuk, dengan riang Ia pergi dari kamar itu meninggalkan Bibi Telur yang sudah retak itu. Ia berlari secara diam-diam melalui pintu belakang. Untuk mengelabui penjaga, ia melilitkan sorban ke seluruh muka dan ukiran batik di tubuhnya yang khas. Maka dengan rela si penjaga akan melepaskannya dari istana.

     Keramaian membuat aliran darahnya lebih lancar, otaknya juga lebih segar karena banyak oksigen yang masuk. Ya disinilah pasar tradisionalnya. Banyak kios yang menyediakan jasa body painting untuk para gadis mangkuk dan kios yang menjual pearsing untuk pelengkap kecantikannya. Tapi, Putri Mangkuk tak mau mampir ke kios seperti itu, selain karena sudah tak ada tempat kosong untuk di painting, Ia bisa kena bakar oleh Ayahnya bila tahu anaknya mampir ke kios di pinggir jalan yang tidak hygienis itu. Lagipula Ia hanya tertarik untuk mampir ke kios topi di sebelah kanannya.

     Masuklah Ia ke dalam kios, pedagangnya ramah, dan murah senyum. Ialah Abang Payung, sudah lama ia mengenal pria ini. Dulu saat kecil ia sering ikut ke istana dengan Bibi Telur. Ya, Ia adalah San, anak bungsu Bibi yang seumuran dengan Mangkuk. Masih mengenakan sorban ia berkeliling ke etalase toko melihat-lihat berbagai macam topi yang menarik hati.

     “Mau yang mana putri?” tanyanya tiba-tiba. Mangkuk terkaget mendengar kata Putri. Ia menoleh kearah suara tersebut. San rupanya.

     “HEM, kau tau aku?”

     “Hahaha, tentu. Kau tak asing bagiku putri.”

     “Aku yakin kau pintar menjaga rahasia.” Tukasnya pada seikat paying di sebelahnya.

     “Bisa dipercaya.” San mengerti perintah itu, yang artinya Ia harus diam.

     “Hem, nona…. Ada yang bisa saya bantu.?” Tawarnya seolah ia baru mengenal Mangkuk.

     “Bagus. Kau tipeku kawan.” Canda putri pada si paying.

     “Em, Bang, tolong lihat yang coklat itu.” Putri menunjuk topi berukuran besar berwarna coklat yang tergantung di rak paling atas. Dengan sigap San menggaitnya dengan tangannya yang panjang dan segera menyerahkannya pada putri. Ia memutar topi itu, halus dan lembut, berbahan dasar katun, romantic dan elegan.

     “Baik aku mau yang ini.” Ia menyodorkan kantung merah pada San.

     “Untukmu saja nona.”

     “Tidak bisa, kau harus terima ini.” Disodorkannya lagi kantung merah itu, tapi San tetap saja tak mau sedikitpun menyentuh kantung itu. Tak mau repot putri pun meninggalkan kantung itu di rak yang paling dekat dengan tangannya. Lalu berlenggang pergi sembari melepas sorban dan mengenakan topi barunya. Topi itu sangat cocok di wajahnya, diameternya sangat pas dengan lingkar kepalanya dan sedikit menutupi bagian wajahnya, dan itu yang Ia mau, wajahnya tertutup sehingga Ia tak dikenali oleh khalayak umum.

     Dengan semangat Ia menyusuri jalanan yang ramai begini sendirian, melewati satu per satu rakyatnya santai. Sampai Ia terhenti tiba-tiba karena melihat tanda itu,, tanda yang sering dibuat teman lamanya. Melobangi bendera yang terpasang di pinggir jalan dengan bentuk segitiga. Ia mendekati bendera itu, bendera kebangsaan negeri mangkuk berwarna biru dengan lambang oval besar dan oval kecil di bawahnya, ya benar. Ini benar-benar mirip dengan tanda yang suka Ia buat dimanapun Ia berada. Stainly.

to be continued >>>>

Jumat, 18 November 2011

Pangeran Sendok dan Putri Mangkuk (part 1)

     Untuk apa ia menjadi pangeran, apa dan siapa yang harus ia pimpin? Apakah sanggup tubuhnya yang kurus ini memimpin suatu kerajaan. Ah, rasanya tidak mungkin, jika ia harus berkelahi dengan sekelompok monster yang ingin mmerusak kerajaannya, mungkin ia bahkan tak kuat mengangkat pedangnya sendiri, menurutnya.  

     “Tuan,…” kata penasehat pada pangeran sendok yang sedari tadi berdiri dibelakang jendela, memandang kosong kearah biru langit. 

      “Ya?” kata pangeran berserak lembut.

     “emmm….” Ia ragu untuk mengucapkan kalimatnya.  

     “Ada apa penasehat?” tanyanya penasaran.

     “Ini.” Ia menyerahkan sebuah amplop berisikan surat. Perlahan ia membuka surat itu. Meski sempat ragu untuk membacanya, tapi setelah pangeran melihat wajah penasehat tempat tusuk gigi yang tulus ia yakin bahwa isi surat ini ……… ia tidak tahu apa…..

     “kepada pangeran sendok steelspoon, kami mengharapkan kedatangan anda di acara pernikahan anak kami yang bernama putri mangkuk batik made in solo dengan pangeran bakul nasi plastik,” ia melirik penasehat lagi.

     “…dengan segenap rasa terima kasih kami haturkan bila Pengeran bersedia menghadiri acara ini. Wassalamu’alaikum.” Lanjutnya.

     Wajahnya berubah setelah membaca surat undangan tadi, kini raut mukanya suram dan tidak mengkilat lagi. Matanya sendu dan jemarinya lemas sehingga mengayunkan surat dan amplopnya ke atas lantai. Ia terduduk di kursi tahtanya sekarang. Kursi berspon merah dengan bingkai keemasan layaknya kursi raja pada umumnya.

     “Pangeran, kau tak apa?” Tanya penasehat khawatir.

     “Tenang saja penasehat, kau tau aku lebih kuat dari badanku kan?” hiburnya tegar dan masih tertunduk.

     “Iya, pangeran. Kau mau aku bawakan sesuatu?”

     “Emmm…..”

     “Aku mau kita berkunjung ke kerajaan Putri Mangkuk sebelum acaranya tiba.” Lanjutnya.

     “Ba-baiklah pangeran.” Agak bingung tapi ia tak bisa menolak perintah pangeran.

     “HEYY!!!!!! CEPAT SIAPKAN PERBEKALAN DAN KENDARAAN UNTUK PANGERAN PERGI KE KERAJAAN MANGKUK!! CEPAT!” perintahnya pada ajudan kerajaan menggema di balik mikropon. Dengan sigap mereka melaksanakan perintah penasehat.

     “Ini mantel dan I-pod anda pangeran.” Sodor penasehat di dalam kereta asbak.

     “Terima kasih penasehat.”

     “HIIAAKKK!!!!!!!” kusir memberi aba-aba dan keretapun melaju dengan cepat ke kerajaan mangkuk.

     “I hope you know, I’ll always try to be good man until my last breath,,,, I can’t pretend the feeling for you, you make me feel like I’m free again…” selagi kereta melaju, pangeran mendendangkan lagu mengikuti irama dari dalam I-pod. Sedangkan penasehat sedang memeriksa jadwal pangeran seminggu ke depan dengan “Tablet”-nya.

     “Maaf pangeran, hamba tidak ingin lancang tapi mungkin kita hanya bisa berkunjung ke kerajaan mangkuk beberapa hari saja. Karena selasa depan kita ada perjamuan makan dengan keluarga dari ibu anda.”

     “Tidak masalah bung, atur semuanya, I belong with you. Ck” pangeran memainkan jemarinya menyerupai tembak dan menunjuk penasehat yang duduk di sampingnya. Ia masih tak melepas I-podnya. Kali ini dengan lagu dari taylor swift-our song.

     Kereta berhenti bersamaan dengan dengan I-pod pangeran dimatikan. Dibukanya pintu kereta mewah itu, diikuti penasehat dari belakang. Kerajaan ini sangat ramai. Berbagai macam rupa dan bentuk mangkuk semua ada disini, mangkuk kayu, mangkuk keramik, mangkuk ukir, mangkuk cinapun ada disini. Mata pangeran berpencar mencari sosok itu, menyapu rupa dari ujung ke ujung, tetap ia tak menemukan mangkuk motif batik favoritnya, Putri mangkuk. Ah, mungkin ia sedang dipingit, pikirnya. Jadi ia melanjutkan perjalanan mencari hotel yang paling dekat dengan kerajaan dan memilih kamar yang paling tinggi agar bisa mengamati suasana di bawah sana juga mengamati putri mangkuk tentunya.

     Kini ia duduk di sofa empuk yang menghadap jendela. Menikmati merah senja dengan secangkir moccacino dan ber-chatting dengan teman kuliahnya dulu yang sekarang keberadaannya tak di ketahui.

     Steelspoon : tidak bung, aku tidak seperti dulu dengannya.

     Goldkey : jangan bohong.

     Steelspoon : tidak bohong, aku akan menghadiri pernikahannya besok lusa.

     Goldkey : baiklah. Aku senang kau tegar.

     Steelspoon : tentu, dimana kau?

     Goldkey : disini, bersama orang yang membutuhkanku.

     Goldkey keluar dari percakapan-

     Tuk tuk tuk.

     “Siapa?”

     “Laundry tuan!.”

     “Masuk!” Pelayan berseragam merah dengan topi khas hotel masuk ke kamar pangeran dengan sopan dan menundukkan kepala mendatangi pangeran.

     “Permisi tuan, apakah ada baju yang ingin kau cuci?” tanyanya di balik punggung pangeran.

     “Emmm,,,, rasanya tidak ada. Kata pangeran tanpa menoleh kearah pelayan Laundry.

     “Lalu tuan, ada yang bisa saya bantu lagi disini?” tanyanya ramah meski terdapat nada kecewa karena tak mendapatkan laundry.

     “Aku hanya ingin kau memijiti punggungku.” Sambil menepuk punggungnya.

     “Maaf pangeran, saya tidak ahli dalam memijit, jadi…” ia ragu.

     “Jadi?” ia membalikkan badannya, menatap wajah petugas laundry. Matanya tercengang. Ia sama sekali tak menyangka menemukan makhluk ini dikamarnya sekarang.

prolog : Pangeran Sendok dan Putri Mangkuk

ya, ini debut tergila gue sepanjang abad ini, tentunya gak gila-gila banget sih di banding yang "ITU" (dibaca: produk gagal)


langsung aja kali ya,

namanya sendok, kurus, ramping, tinggi, berwajah mengkilat tapi tak berminyak. (wah, susah ngebayangin jek)<<<< banyak omooooong!!!!! *lempar sendal*.

yayaya, gue belum sempet gambar sori ya sof, ntar deh. ilustrasinya nyusul.

suka nyanyi, untung bukan lagu india. so. pasti keren kalo ada pangeran yang ganteng dan pinter nyanyi, walapun hanya sebuah sendok.

lanjutttt>>>>>

nah, sekarang gue langsung ke lawan mainnya ya. namanya mangkuk, mangkuk batik made in solo tepatnya. badannya banyak tato batiknya, gendut (dibaca : montok) seksi, elegan, baik hati dan cantik pastinya.

yayaya. dimana-mana, kalo ada cowok dan cewek pasti judulnya cinta-cintaan. yupp, sendok dan mangkuk inipun saling mencintai, tapi ya, apa mau dikata kalo takdir mempersulit mereka.

penasaran???

check it out!!!!
i hope u enjoy this.



ini dia si sendok dan si mangkuk. sori banget kalo gambarnya nggak banget ya. haha. masalah tato batiknya, nyusul kali ya, stuck nih mau gambar batik apaan (padahal emang gak bisa gambar). tugas segunung pula. (bukan waktunya ngeluh)

maklumin aja ya sof.

(di edit pada hari jumat tanggal 2 desember 2011)

here i go again

oh come on. i have to do something to increase my carier. (hahaha..... ssookkk!!!!1)
well, here i go again. yeah. make it fast baby.

check it out!!!!!



mari toss untuk softor yang udah kembali dari gua tak ada sinyal!!!!! wuuuhaaaaa!!!!!!