let me try to be a good girl when i should to hug my mom. let me try to be jerk when i have to kick that guy. let me try to be an angel when my prince need to. n let me try to be real myself when i thought that i have to trying.
Sabtu, 05 Juni 2010
Aku Datang Membawa Doa
Tanpa alas kaki, tanpa tau apa yang ada di depanku.
Gelap. Bahkan bulan dimakan nama malam sendiri
Tanpa sisa. Detak jantung menjadi irama setiap langkahku
Menjalar dengan darah menuju otak lalu ke mata.
Ya, detak itu kini ada di mataku.
Menjadi dosa dalam dirinya sendiri.
Aku terus berlari. Tak berasa rumput pada kaki ini
Bukan tanah, beton, aspal aatau keramik.
Sesuatu yang halus dan kuat.
Tidak. Bukan kayu.
Entahlah. Kadang sesuatu yang tajam dan berduri.
Kadang bara yang terlarut panas tapi tak membuat terbakar.
Kadang air yang bahkan aku sendiri tak tau apa rasanya.
Semua hal itu membuatku lelah.
Berlari di tengah malam dan tak tak tau dimana ujungnya.
Aku lelah. Terlalu lelah. Bahkan untuk bernafas sekalipun.
***
Terdengar satu ketukan ringan dan memanggil. Satu ketukan lagi.
Lagi. Lagi. Dan banyak lagi.
Bergandengan menyusun lagu lirih tak berlirik dan tak berlarik.
Saling menarik mencubit menarik.
Kini aku berputar. Berputar. Berputar.
Lalu berputar dan berputar lagi.
Meninggalkan aroma kekalahan dan kelelahan yang perlahan menjadi kepakan kasar dan
kaok-an parau hitam gagak yang telah lama bersemayam di jiwa.
Menggerogoti setiap rusuk. Lama. Hingga busuk.
Aku terus berputar. Sampai pada sungai yang akan menghanyutkanku pada sebuah ujung.
Mengalirkan dongeng yang membuat nyaman dan damai.
***
Dimana kakiku?
Dimana tanganku?
Dimana mataku?
Dimana?!
Kini aku seonggok asa dengan jantung menggantung dan berlambai-lambai diterpa angin.
Masuk ke bagian paling dalam dan intim di dasar relung hati.
Oh. Ini bukan aliran sungai. Tapi aliran air mata.
Dan bagus saja. Aku tidak bisa berlari lagi.
***
Aku mencium bau pantai. Tapi hidungku tak disini.
Aku merasakan ada yang menggigiti bokongku. Sakit sekali.
Aku mendengar suara memanggilku. Tapi telingaku tak disini.
Ada lagi. Semakin dekat. Hampir dekat. Dekat. Sangat dekat.
Hingga menabrakku dan menjatuhkanku ke dasar sungai.
Dan jatuh lebih dalam lagi.
Menuju ruang kosong yang menyilaukan.
Mempertemukan aku dengan Tuhan.
Apakah ini ujung?
Suara itu ada lagi. hampa dan tak bernyawa
Aku lelah. Lelah yang sangat panjang melebihi untaian dongeng telur dan ayam yang saling mengaku menjadi makhluk pertama.
Kalau ini memang ujung.
Tuhan aku datang membawa doa, memohon kematianku.
***
Putih tak jadi putih.
Malam tak jadi malam.
Angin menghempas jantung mengikis asa.
Tinggallah aku yang jadi abu. Benar.
***
Kau Itu...
Kau itu laki-laki. Bukan kapas tak bernoda berlambang cinta bersayap kesucian. Bernyanyi melodi halus bernada sopan. Mengusirku. Tetap saja.
Kau itu laki-laki. Berpundak lapang berhati luas. Aku bernyanyi lagu lama bernada ‘aku membutuhkanmu’. Hanya dengarkan. Itu saja.
Star Si Kantong Plastik dan Woody Si Dompet Kulit by: Dee
Star. Karena badannya yang lembek dan tipis, Woody sering mengejeknya. Sesekali Ia melawan tapi Ia hanyalah kantong plastik yang lemah, yang dengan sekali dorong Ia bisa terbang sampai beberapa meter. Tak ada yang menemaninya, hanya Lani uang seratus ribuan yang sudah usang dan beberapa uang logam berkulit hitam.
Suatu hari, Star dan Woody diletakkan pada meja yang sama. Woody begitu bangga memperlihatkan badannya yang berkilauan terkena sinar lampu. Mempertontonkan setiap lekuk tubuhnya pada setiap uang betina yang menggilainya.
“Hi cantik! Kau suka padaku?”betapa Woody sangat pandai membuat mereka mati lemas karena pesonanya.
“Hi Lani! Kau memang tak cantik tapi kau berharga, apa kau tak mau tidur dengan nyaman di dalam tubuhku yang hangat?” goda Woody pada Lani yang duduk di sebelah Star dan yang lainnya.
“Tidak. Terima kasih.”gemerisik Lani tanpa menatap Woody.
“Oh, tentu. Kau kan lebih suka tidur kedinginan dalam kantong plastik rongsokan temanmu itu. Hahaha...”Woody membusungkan dadanya begitu tinggi dan diikuti tawa istri-istrinya. Star hanya bisa menunduk kempis.
“Ya, aku memang rongsokan, beda denganmu.”
“hahaha...”sekali lagi tawa Woody membuat Star semakin kempis seperti kertas.
“kau memang beda dengan Woody. Kau lebih baik.” hibur uang logam berkulit hitam diikuti dengan senyum Lani.
“Terima kasih.” Star membuka mulutnya sangat lebar mempersilahkan Lani dan lainnya masuk untuk tidur. Begitu juga gadis-gadis Woody yang sudah berbaring rapi di tubuhnya.
**
Dua orang bertutup kepala masuk kedalam kamar dengan mengendap-endap dan mengambil Woody serta uangnya. Lalu mereka kabur secara diam-diam. Woody telah dicuri tapi Lani dan uang logam berkulit hitam selamat berkat Star. Mereka sangat bangga memiliki Star.##Ende
Si Pohon Tua by: Dee
Seperti siang-siang sebelumnya, siang inipun matahari begitu terik membakar kulit Si Pohon Tua di pekarangan rumah Endy.
“Tak bisakah Ibu membiarkan kami jatuh?” kata Emil si daun yang bertengger pada batang Si Pohon Tua.
“Tidak.” kata Si Pohon Tua serak karena kehausan.
“Demi kebaikan Ibu.” kata Tedy si daun lainnya.
“Kalau tidak Ibu akan mati.” lalu berpuluh-puluh daun itu menjatuhkan dirinya ke tanah.
“Tidaak.”Si Pohon Tua menangis meronta sementara tenggorokannya semakin kering. Satu per satu daunnya gugur ke tanah. Kini ia semakin gundul.
“Lalu apa kalian tega membiarkan ibu kedinginan setiap malam menunggu daun-daun ibu tumbuh setengah musim hujan nanti?” Si Pohon Tua terus menangis sementara kulitnya semakin mengering dan mengelupas. Akhirnya Emil dan lainnya tidak sanggup meninggalkan Si Pohon Tua. Mereka pun mengering bersamaan seiring berjalannya waktu.
**
“Ibu, pohon ek kita mati.” kata Endy di bawah Si Pohon Tua.
Ende
