Minggu, 05 Juni 2011

Sebuah kisah kecil di Balikpapan (nyata)


Tepatnya di taman yang sering kita kunjungi bernama “bekapai”. Tak sengaja saat penulis sedang “bermain” di taman itu tiba-tiba sesosok gadis kecil (ehm, sebenarnya bukan gadis kecil lagi atau panggilan ini terlalu manis untuknya, sebut saja bunga) mandatangi penulis dengan wajah memelas. Dia menjual sebotol parfum yang penulis sendiri tidak yakin isinya benar-benar parfum.

Bunga : “Mbak…. Mau beli parfum nggak?”

Penulis : “Nggak.”

Bunga : “Ini loh, (membuka lengan bajunya dan memperlihatkan bekas luka kepada penulis) bekas luka di bakar sama ibu tiri saya.” (penulis hanya bengong)

Penulis : “Kenapa?”

Bunga : “Karena dulu saya disuruh minta-minta tapi saya nggak mau.”

Penulis : “Sekarang masih tinggal sama ibu tiri kamu?”

Bunga : “Nggak mbak.”

Penulis : “Terus parfumnya dapet dari mana?”

Bunga : “Dari temen saya.” (nggak percaya, paling tuh botol bekas dikasih air)

Penulis : “Oh yaudah, berapa parfumnya?”

Bunga : “Terserah mbak aja.”

Penulis : (memberi uang 5000 rupiah dan mengambil parfum dari tangan gadis kecil tersebut)

Bunga : “Terus mbak, nanti malam kan saya mau jalan sama teman-teman saya. Terus teman saya pasti nanya “dimana parfumnya?” terus saya bilang nggak tau…………. Padahal dia bilang parfum ini jangan di jual, buat kenang-kenangan.” (sesaat penulis bengong, berpikir, mau ikutin skenario dia atau nggak ya? Sedangkan dia masih menunggui penulis berharap mau memberikan parfum itu padanya)

Penulis : “Oh yasudah ini parfumnya kamu bawa aja, nanti di marahi sama temen kamu lagi kalo saya bawa.” (akhirnya penulis menyerah dan membiarkan dia menipu penulis, sebenarnya penulis hanya ingin bersedekah)

Bunga : “Iya, makasih ya mbak.”

Penulis : “Yasudah, cepet sana beli makan ntar kamu lapar loh.” (padahal cuma basa-basi agar dia cepat pergi. Penulis yakin dia nggak akan beli makanan dari uang jual parfum yang sebenarnya cuma trik agar bisa dapat uang. Dan dari pengamatan penulis, gadis ini sudah mendapatkan 4 korban skenarionya, karena dia menghitung 4 lembar uang 5 ribuan di depan mata penulis, tapi ini hanya perkiraan saja )

Gadis kecil itupun berlalu yang penulis yakin dia akan mendatangi orang-orang seperti penulis dan dengan lihai memerankan skenario yang sama. Waw. (tersenyum) betapa pintarnya dia (takjub).

Yang bisa penulis simpulkan dari cerita di atas adalah tidak semua anak jalanan layak untuk menerima kebaikan dari kita. Atau bila ingin menolong “gadis kecil” itu anggap saja kita bersedekah.